Selasa, 24 Juni 2008

KERIS KI BAJU RANTE, Koleksi Andalan Museum Seni Neka

Keris ini berbentuk pedang, panjang 70 cm, rangka kojong kombinasi gading dan kayu pellet, danganan bebed duk, dibuat abad XVII, pada masa Raja Karangasem
Anak Agung Gde Putu (Raja Puri Gede, abad XVII). Kemudian (alm) A.A.A. Angelurah Ketut Karangasem (Raja Karangasem terakhir) secara pribadi menyerahkan keris ini kepada putranya Anak Agung Gde Rai Sutedja (sesuai dengan Surat Keterangan dibuat di bawah tangan bermaterai cukup, pada 8 Oktober 1989). Pada 2 April 1991, keris ini diemaskawinkan kepada Mangku Pande Wayan Tusan dari Banjar Pande Sari, Bebandem, Karangasem.
Pande Wayan Suteja Neka pertama kali melihat keris ini pada 15 Oktober 2006, saat upacara meajar-ajar ke pantai dan Pura Gowa Lawah, Klungkung. Upacara ini merupakan runtutan dari Karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih lan Mupuk Pedagingan di Pura Penataran Pande, Peliatan, Ubud (7 Oktober 2006). Seusai upacara tersebut Pande Wayan Suteja Neka didampingi oleh anaknya Pande Nyoman Wahyu Suteja, Pande Made Tamanbali dan isterinya Pande Made Ekaswari mampir di rumah Jro Mangku Pande Wayan Tusan di desa Bebandem, Karangasem guna menyelesaikan transaksi pembelian satu perangkat gambelan Selonding antara Pande Wayan Suteja Neka dengan Jro Mangku Pande Wayan Tusan. Dalam kesempatan itu Mangku Pande Wayan Tusan menyampaikan rencananya akan mediksa/medwijati jadi Sira Mpu Pande. Keris koleksinya pada waktu itu diserahkan kepada Pande Wayan Suteja Neka untuk dilestarikan/dijadikan koleksi Museum Seni Neka. Keris ini tercatat pada buku yang berjudul GITA MAHAPITAYANA, 2000 oleh Pande Wayan Tusan. Dengan keterangan gambar panakep ring ajang (cover buku): Keris Pajenengan Puri Agung Karangasem “Ki Baju Rante” (Yasan Sira Pande, ngerttyang kawirbhujan Sang Prabhu).
Dengan menggunakan keris ini, bila menghadapi lawan diyakini akan memiliki kekuatan seperti baju rante baja, dan akan mampu menembus musuh yang menggunakan baju baja.

Tidak ada komentar: